Bissmillah…
Hajimemashou…
Persiapan
yang baik adalah persiapan yang dilakukan jauh-jauh hari secara matang dan
terencana. Namun jika Anda baru menyiapkan sekarang-sekarang ini, insya Allah
tetap bisa mencobanya.
Hal yang perlu disiapkan:
1. Persiapan mental dan
spiritual.
Jika Anda saat ini adalah
mahasiswa tingkat awal (1, 2, dan 3)… maka Anda masih memiliki waktu yang
sangat cukup untuk menyiapkan diri. Jika Anda adalah mahasiswa tahun terakhir
atau bahkan sudah lulus… insya Allah Anda masih bisa mencoba dan mempersiapkan
diri. Persiapan yang diperlukan di sini adalah terkait dengan pembentukan
karakter, pola pikir, dan manajemen diri. Mungkin akan ada yang menyeletuk:
“Walah mau persiapan sekolah ke
luar negeri aja repot gitu…?”
Maka saya dengan tegas akan
menjawab:
“Ya tentu, agar kita tidak
repot sendirinya nanti selama di sana”.
Pembentukan karakter ini
penting agar setiap orang nantinya memiliki komitmen dan prinsip diri selama
berada di negeri asing. Tidak melebur dan hancur, namun mampu menyerap hal-hal
positif selama di sana, mengembangkannya, dan mendayagunakannya untuk hal-hal
yang lebih baik nantinya.
Pembentukan karakter dan pola
pikir juga bermaksud agar masing-masing orang yang ingin studi di luar negeri
nantinya tidak hanya berpikir bahwa ke sana itu hanya sekedar “jalan-jalan,
gengsi, menikmati budaya, merasakan berbagai musim dan lainnya”… namun agar
setiap individu sadar bahwa tujuan ke negeri di luar sana adalah untuk:
BELAJAR. Bahwa di balik indahnya “jalan-jalan” menikmati sakura, tebalnya
salju, indahnya musim gugur, atau budaya Jepang yang sangat khas… ada sebuah
tanggung jawab besar yang jauh lebih penting yaitu bagaimana bisa menyelesaikan
studi dengan hasil terbaik yang bisa dilakukan. Perbedaan pola pikir dan pola
kerja antara Jepang dan Indonesia…inilah Character Shock utama yang pasti akan
dirasakan, namun justru jarang dipersiapkan dalam menghadapinya.
Anda bisa memulai persiapan
tahap ini dengan melatih diri untuk hidup secara teratur, terencana, kerja
keras dan disiplin. Di Jepang nantinya Anda mungkin akan berhadapan dengan
kondisi akademis yang berbeda. Jika basis Anda nantinya adalah penelitian di
Lab, bisa jadi keseharian Anda nantinya hanya akan dipenuhi dengan kegiatan di
Lab yang kadang terasa monoton dan menjemukan. Dari pagi hingga malam, bahkan
ketika Anda tidak ada kegiatan khusus di Lab pun… Anda akan merasakan bahwa
Anda harus berada di Lab. Bahkan kadang ketika sabtu dan minggu sekalipun.
Meski nantinya hal seperti ini sifatnya kondisional tergantung Lab Anda
sendiri.
So… biasakan diri Anda dengan
kondisi-kondisi seperti ini, kerja keras berdasarkan target dan rencana, hidup
teratur (misal membiasakan membuang sampah pada tempat sampah, memisahkan
sampah berdasarkan jenisnya) dan lainnya. Insya Allah itu akan sangat membantu
Anda nantinya.
2. Persiapan Kemampuan
Diri / Skills
Hal pertama yang perlu
disiapkan adalah: Kemampuan Komunikasi. Dalam hal ini paling tidak bahasa
Inggris. Zaman sekarang berbahasa secara pasif saja tidaklah cukup, harus
dilengkapi keaktifan berkomunikasi secara verbal. Dan ini tidak bisa dilakukan
dalam waktu yang singkat. Jika Anda punya alokasi dana untuk ikut kursus Bahasa
Inggris, maka saya sarankan untuk ikut. Pilih kursus yang benar-benar bisa
membantu Anda meningkatkan kemampuan Anda berbahasa Inggris. Beruntunglah
mereka yang sejak SD atau SMP mendapatkan pelajaran bahasa Inggris, memahami
bahwa bahasa Inggris suatu saat nanti akan sangat diperlukan, sehingga kemudian
benar-benar serius mendalaminya dan mendapatkan manfaatnya sekarang.
Sayangnya banyak yang ketika SD
– SMA dapat pelajaran Bahasa Inggris, namun justru main-main dan baru menyadari
sekarang bahwa ternyata bahasa Inggris benar-benar diperlukan. Semoga Anda
tidak termasuk di dalam kelompok orang-orang ini.
Namun cukupkah pasif dan aktif
dalam berbahasa Inggris? Ternyata belum… karena rata-rata persyaratan yang
diajukan oleh pemberi beasiswa saat ini biasanya mencantumkan adanya bukti
resmi kemampuan berbahasa Inggris ini. Misalnya TOEFL, TOEIC, atau IELTS dengan
standar skor yang telah ditetapkan oleh pemberi beasiswa. Misalnya untuk TOEFL…
biasanya yang diminta adalah sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga yang
diakui secara resmi secara internasional dengan skor minimal rata-rata adalah
550.
Dan bagi sebagian orang hal ini
memerlukan perjuangan ekstra dalam mencapainya bukan hanya mempersiapkan untuk
memenuhi standar minium skor tersebut… tapi juga finansial untuk bisa mendaftar
mengikuti tes-nya.
So… persiapkan yang terbaik
secara matang dan terencana… jauh-jauh hari.
Apakah kemampuan bahasa Jepang
diperlukan dalam seleksi? Tentang ini sifatnya kondisional dari masing-masing
panitia seleksi. Ada yang tidak mensyaratkan, ada yang mensyaratkan untuk lulus
tes kemampuan bahasa Jepang setelah nanti berada di Jepang, dan lain-lain. Jika
memang punya basic bahasa Jepang, alhamdulillah itu akan jauh lebih baik
nantinya.
Kemampuan berkomunikasi akan
sangat membantu Anda nantinya dalam survival selama di Jepang. Bahkan jauh hari
sebelum berada di Jepang, misalnya komunikasi dengan calon Professor.
Hal kedua adalah… persiapan
skill yang sesuai dengan bidang Anda saat ini atau bidang yang akan diambil
nantinya ketika di Jepang. Misalnya… Jika Anda adalah mahasiswa biologi… maka
paling tidak Anda memiliki skill dalam bidang anatomi makhluk hidup. Jika
nantinya kerja Anda akan banyak di Lab… Anda harus menyiapkan diri untuk dapat
memenuhi ketentuan perilaku di Lab (Laboratory Manner)… dan itupun membutuhkan
skill.
3. Persiapkan Proposal / rencana penelitian dan
studi
Ini merupakan syarat utama yang
pasti selalu ada ketika Anda ingin melamar beasiswa studi S2 ke Jepang atau
negara lainnya. Tentunya dalam bahasa Inggris. Bahkan gagasan utama dalam
rencana riset/studi ini bisa menjadi penentu lolos atau tidaknya Anda untuk
diseleksi.
Menyusun proposal riset itu
gampang-gampang-mudah. Tergantung dari masing-masing individunya. Mengenai
detail penyusunan proposal riset pasti dapat Anda temukan di kampus Anda
masing-masing. Jadi silakan bertanya ke dosen atau kakak kelas yang saat ini
sedang menyusun tugas akhir tentang hal ini.
Yang jelas, usahakan menyusun
tema proposal riset ini yang sesuai dengan bidang Lab / Prof yang ingin Anda
tuju dan sebaiknya berkaitan dengan bidang S1 anda saat ini. Itu akan
mempengaruhi penilaian. Dari mana datangnya ide? Dari membaca buku, jurnal
ilmiah, majalah, diskusi dengan dosen atau kakak kelas, dan lainnya. So
persiapkan dengan cara terbaik.
4. Persiapkan Calon Professor (Sensei) yang akan
dituju
Di Jepang, kedudukan Professor
atau Sensei terhadap mahasiswanya (khusunya anggota Lab-nya) itu sangat
penting. Bahkan ada istilah “guyonan serius” : “Nasib studimu di Jepang itu berada di tangan
Sensei”.
Hal ini wajar karena memang
sensei-lah yang menjadi guarantor kita selama studi di Jepang. Jika sensei
sudah mengatakan: “Oke saya akan mengundang Anda untuk studi di Lab saya”… maka
insya Allah Anda sudah mendapatkan tiket untuk studi ke Jepang. Oleh karena itu
carilah Prof / Sensei sejak jauh2 hari.
Bagaimana mencari sensei yang
tepat? Banyak caranya, yang saya lakukan adalah mencari alamat email
masing-masing sensei di situs universitasnya. Saya baca publikasi dan bidang
keahliannya. Jika cocok, saya kemudian mengirimkan email beserta proposal riset
yang sudah saya buat sebelumnya.
Terkadang butuh proses dan
kesabaran. Saya butuh waktu 2 tahunan untuk mendapatkan sensei yang tepat.
Orang lain mungkin bisa mendapatkan lebih cepat. Semuanya kondisional. Yang
pasti harus diusahakan. Lebih detailnya tentang ini bisa Anda baca di tulisan saya
yang berjudul:
“A Roads to Dreams: Pedoman
Melanjutkan S2 ke Jepang” di Blog saya :http://www.danangap7.multiply.com
5. Persiapkan surat
rekomendasi dari dosen/universitas
Di Jepang, surat rekomendasi
memiliki peran penting dalam menilai calon mahasiswa. Oleh karena itu,
sebaiknya Anda memiliki seseorang yang mengenal Anda dengan dekat (Dosen /
Pejabat Kampus) yang bisa merekomendasikan diri Anda secara kuat ke calon Prof
/ Universitas / Panitia Seleksi.
Anda bisa menyiapkan diri
dengan membangun hubungan yang baik dengan dosen Anda di kampus, mulai dari
sekarang.
6. Persiapkan untuk
mendaftar seleksi beasiswa
Anda bisa mengikuti berbagai
macam seleksi beasiswa. Selama Anda tahu info kapan pembukaan seleksi itu
dibuka. Anda bisa mencari tahu di situs kedutaan Jepang, situs perusahaan
Jepang (misal Panasonic, Fujitsu, Hitachi, dll), bisa dari pengumuman di
kampus, diskusi dengan dosen atau kakak kelas, atau lainnya. Anda bisa mencoba
cara saya yaitu nyari satu-satu di Google… meski butuh usaha ekstra juga.
Namun biasanya pembukaan
seleksi diadakan akhir tahun atau antara bulan Januari-Mei. So, mulailah
mencari dan mengumpulkan info dari sekarang. Setelah menemukan infonya… jangan
lupa membaca seluruh ketentuan syarat detailnya dan penuhi syarat-syarat itu
tanpa kecuali. Meski kadang butuh usaha dan pengorbanan ekstra untuk
memenuhinya.
Mungkin demikian gambaran
umumnya yang bisa saya jelaskan. Jika ada yang kurang jelas, silakan bisa
ditanyakan. Jika ada rekan-rekan lain yang ingin menambahkan, dipersilahkan
juga dengan sangat. Jika ada yang keliru mohon koreksiannya.
Note Tambahan:
Saya sering sekali
mendengar/membaca keluhan seperti ini:
“… saya hanya orang pelosok, IPK saya kecil,
saya gak punya dana, saya orangnya kuper, saya gak bisa bahasa Inggris, saya
gak punya prestasi apa-apa, saya minder, bla, bla, bla… Apa mungkin saya
bisa???”
Pokoke seluruh keluhan tentang
kondisi dirinya keluar. Hanya satu tanggapan yang akan saya berikan:
“Hanya Anda yang tahu jawabannya… Sesungguhnya
Allah itu sesuai dengan prasangkaan hamba-Nya”
Saya bukan ingin sekedar
“menyindir”… namun berusaha menyadarkan setiap orang yang membaca tulisan ini
dan masih memiliki pikiran seperti itu:
“Selama Anda berani dan mau mencoba, insya Allah
akan ada jalan”.
Saya termasuk “alumni”
orang-orang yang dulu sering tidak PD dengan kondisi diri dan selalu merasa
minder dibandingkan orang lain yang “terlihat” lebih “hebat”. Padahal… tanpa
saya sadari… orang-orang yang telihat “hebat” itupun memliki pikiran yang sama
tentang diri saya… bahwa di mata mereka saya pun bisa “terlihat hebat”.
Ternyata Allah memberikan semua orang kesempatan yang sama untuk mencoba… yang
membedakan kemudian adalah niat, kemauan, dan aksi yang kita ambil setelahnya!
Jangan jadikan kondisi diri
Anda sebagai alasan untuk membuat diri Anda sendiri ragu. Jangan sampai Anda
memelas untuk dikasihani karena kondisi Anda itu. Tahukah Anda bahwa kebanyakan
orang jatuh bukan karena orang lain… tapi karena dirinya sendiri yang
menjatuhkan. Mengeluh gak akan menyelesaikan masalah. Cari solusinya, karena
Allah memberikan masalah sepaket dengan solusinya. Syaratnya adalah mau
mencarinya atau tidak.
Jangan mendramatisir keadaan
Anda dan… please jangan lebay !! No offense… 
Hehehe… Ganbare…
“Man Jadda wa Jadda… Siapa yang
bersungguh-sungguh, ia akan berhasil…”
(Jazakumullah mas Ahmad Fuadi
(pengarang buku 5 Menara) atas obrolan semangatnya waktu itu)
0 comments:
Post a Comment